Bunga terakhir ini bukan hanya tanda perpisahan. Ia adalah surat tanpa suara: pengakuan bahwa ada sesuatu pada Alfi yang akan terus tumbuh di relung yang tak kasat mata. Di bawah sinar bulan, kelopak menutup setengah, seolah menyimpan rahasia yang hanya kita berdua pahami. Aku menyalakan lilin kecil di sampingnya—cahaya kecil untuk menandai jejak yang pernah kau tinggalkan. Asapnya melingkar, mengangkat wangi mawar ke langit, membiarkan malam memelihara memori.
Malam merayap. Lampu temaram menyorot kelopak yang kini tampak seperti kertas tipis, rapuh tetapi teguh menahan makna. Aku berbicara padanya, atau padamu—entah siapa yang sebenarnya mendengar—mengakui semua yang selama ini kusimpan: bahwa kehilangan terasa seperti musim yang tak kunjung berganti; bahwa merawat satu bunga sama seperti merawat sisa-sisa kehadiranmu—perlahan, sabar, dan penuh hormat. bunga terakhir buat alfi
Kupetik bunga itu perlahan, terasa seperti memegang waktu yang tersisa. Batangnya dingin dan sedikit bengkok, bekas hari-hari yang menunduk. Daunnya menempel, masih menyimpan embun yang tak sempat mengering. Warna merahnya sudah meredup; bukan karena layu saja, tapi karena semua kata yang belum sempat kuucap padanya telah menyerap ke dalam warna itu—rindu, maaf, terima kasih, dan kebisuan yang panjang. Bunga terakhir ini bukan hanya tanda perpisahan
ÉúÎïͨÊ×Ò³ | ÉúÎïͨÊ×Ò³ | ½ñÈÕ¶¯Ì¬ | ÉúÎïͨÉÌ³Ç | È˲ÅÊг¡ | ºËÐÄ¿¯Îï | ÌØ¼ÛרÀ¸ | ÉúÎïֱͨ³µ | ¿ÆÑн»Á÷ | ÕýÅÆ´úÀíÉÌ | Öйú¿ÆÑ§ÈË | м¼ÊõרÀ¸ | ¼¼Êõ½²×ù
°æÈ¨ËùÓÐ ÉúÎïͨ
Copyright© eBiotrade.com, All Rights Reserved
ÁªÏµÐÅÏ䣺
ÔÁICP±¸09063491ºÅ